Kenapa-Kenapa Harus ke Bunda? Menghadapi "Default Parent Syndrome" Biar Otak Nggak Overload
Pernah nggak, Bun, lagi selonjoran sebentar atau baru mau merem, mendadak terdengar teriakan: "Bundaaa, kaus kaki adik di mana?", "Bunda, minta minum!", padahal di sebelah si kecil ada Ayah/Orang lain yang lagi duduk santai pegang HP?
Fenomena ini ada namanya: Default Parent Syndrome. Kondisi di mana satu orang (biasanya Bunda) secara otomatis dianggap sebagai "pusat bantuan 24/7" oleh anak dan seluruh isi rumah. Kalau dibiarkan terus-menerus, otak dan emosi Bunda bisa mengalami overload alias lelah luar biasa!
1. Kenapa Bayi/Anak Selalu Nempel dan Minta ke Bunda?
Sebelum keburu emosi, pahami dulu alasan biologis dan psikologisnya:
-- Zona Nyaman Utama (Safety Zone): Sejak di dalam kandungan hingga masa bayi, aroma, suara, dan sentuhan Bunda adalah hal pertama yang dikenal anak. Secara refleks, saat butuh sesuatu atau merasa tidak nyaman, otak anak akan langsung menunjuk Bunda sebagai "tombol darurat".
-- Kebiasaan Respons Cepat: Tanpa disadari, Bunda sering kali merespons atau membereskan sesuatu jauh lebih cepat sebelum Ayah/orang liain sempat bergerak. Anak jadi terbiasa: "Kalau bilang Bunda, pasti langsung beres."
2. Dampak "Default Parent" Kalau Nggak Segera Dibenahi
Menjadi default parent mungkin terasa membanggakan di awal karena merasa dibutuhkan. Tapi dalam jangka panjang, dampaknya kurang sehat untuk dinamika keluarga:
-- Bunda Mengalami Decision Fatigue: Otak Bunda capek karena harus membuat ratusan keputusan kecil setiap hari, dari hal sepele sampai hal besar.
-- Ayah Merasa Excluded (Tersisih): Ayah bisa merasa kurang percaya diri atau bingung harus masuk dari mana karena anak selalu menolak kalau dibantu Ayah.
-- Anak Kurang Fleksibel: Anak jadi sulit beradaptasi saat Bunda sedang ada keperluan, sakit, atau butuh waktu sendiri (me time).
3. Trik Praktis Melepaskan Predikat "Default Parent"
a. Jurus Redirection (Pengalihan yang Konsisten)
Saat anak minta bantuan yang sebenarnya bisa dikerjakan Ayah, latih anak secara konsisten dengan kalimat positif.
-- Kalimat Bunda: "Yuk, minta tolong Ayah yang bukain botol minumnya. Bunda lagi pegang wajan/lagi selonjoran ya."
-- Sikap Ayah (Kunci Utama): Ayah harus langsung menyambut dengan antusias, misalnya: "Sini sama Ayah! Ayah jago nih bukain tutup botol yang keras." Jangan pernah Ayah bilang: "Minta Bunda sana, Ayah lagi sibuk."
b. Buat "Zona Kekuasaan" Khusus Ayah
Bagi peran secara spesifik dan biarkan Ayah mengambil alih 100% tanpa diintervensi Bunda.
-- Contoh: Rutinitas mandi sore dan sikat gigi malam adalah wewenang Ayah.
-- Rules buat Bunda: Tahan diri untuk tidak mengoreksi cara Ayah memandikan atau memakaikan baju anak, selama anak aman. Biarkan Ayah punya cara uniknya sendiri!
c. Latihan "Bunda Nggak Ada di Rumah"
Anak tidak akan pernah terbiasa dengan Ayah kalau Bunda selalu ada di jangkauan pandangan mereka.
-- Jadwalkan waktu keluar rumah secara rutin (misalnya 1-2 jam di akhir pekan untuk coffee time atau belanja sendiri). Saat Bunda tidak ada, anak akan secara otomatis memindahkan status "tombol darurat"-nya ke Ayah.
4. Poin Awareness untuk Pasangan
-- Menjadi default parent bukan soal siapa yang lebih sayang anak, tapi soal membagi beban emosional secara seimbang.
Membagi peran butuh kesengajaan (intentionality) dari kedua belah pihak. Ketika Ayah makin sering mengambil peran aktif dan Bunda mau "melepas kendali", anak akan belajar bahwa Ayah dan Bunda adalah tim yang sama-sama aman dan nyaman untuk tempat bersandar.
#CilubaaBabyShop #CilubaaBabyKids #CilubaaBabyBeauty #TokoPerlengkapanBayi #TokoBayiSurabaya #BabyShopSurabaya #DefaultParentSyndrome #ParentingTeamwork #BundaCerdas #CoParentingSolid #PolaAsuhBijak
Click one of our representatives below to chat on WhatsApp



